
Aku hidup dengan penuh keistimewaan yang di berikan oleh sang Pencipta kepada kedua orng tua ku. Segala kebutuhanku dapat terpenuhi karena kekuatan ayah dan ibuku dalam memnuhi kebutuhan kelurga. Ayahku seorang pensuan ABRI yang mempunya semangat besar dalam menjalakan hidupnya. Beliau bagaikan ombak yang terus berderu dengan kencang walapun waktu terus belalu.
Kelelahan selalu aku lihat di raut wajahnya yang sudah mulai mengerut, tapi semngat hidup terus beliau kobarkan tanpa lelah. Dengan semangat itu beliau sangat enggan melihat orng orang yang berdaya tetapi tidak memanfaatkan kaki tangan dan fikiran untuk menyempurnakan hidup. Perinsip itu yang sangat beliau ajarkan kepada buah hatinya agar terus beguna untuk diri kita, orng lain dan agama. Dengan segala kekerasanya beliau uraikan dengan kata kata agar anak2nya mau untuk berprilaku sesuai dengan seharusnya.
Kadang kala sifat kolotnya membuat kita enggan menatap wajahnya dan membiarkanya terlena dengan keemosianya yang meletup letup. Bagaimanapun dibalik ini semua, sang colonel menyimpan sejuta kasih dan sayang yang diuraikan melalu sejuta langkah untuk menebarkan kehangatannya sebagai seorng pemimpin.
Tiada ada yang bisa mengantikan kasih sayang beliau kepada anak2nya. Rasa trima kasih tiada akan pernah cukup untuk membalas segala kasih sayangnya. Doa dan harapan akan terus berkumandang di dalam hati dan sanubaruku. Bapak akan selalu jadi panutan kami, Bapak akan selalu menjadi motivasi kamu untuk terus maju dan membahagikan mu bapak.
Fajar yakin sudah banyak kegagalan yang Fajar raih tapi bapak masih tetap menjadi Bapak yang selalu menerima dengan lapang dada. Satu permintaan maaf Fajar, bahwa Fajar tidak bisa menjadi manusia yang Bapak inginkan, tapi inilah jalah hidup Fajar. Fajar tau, mungkin Fajar tidak bisa membanggakan Bapak dan kelurga, tapi fajar berjanji akan selalu berbuat yang terbaik untuk bapak.
I love u Bapak..
No comments:
Post a Comment